Pasca pertama kalinya kasus virus corona mencuat di China, banyak pihak menantikan kepastian kelanjutan Olimpiade Tokyo 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo, Jepang. Apalagi di ketahui penyebaran virus corona Covid-19 makin luas hingga keluar Asia.

Jepang sendiri merupakan salah satu  dari negara yang sudah mengonfirmasi kasus virus corona di negaranya selain sejumlah 44 negara lain yang juga telah mengonfirmasi kasus positif corona di negara mereka.

Karena penyebaran virus corona tersebut merupakan suatu bencana yang tak terduga, banyak bidang yang merasa terkena dampaknya selain di dunia kesehatan, yakni dunia olahraga.

Sebagaimana di ketahui, seharusnya ditahun ini diadakan acara rutin Olimpiade Internasional yang telah di tetapkan akan di laksanakan di Tokyo Jepang. Lalu mengingat kondisi yang terjadi saat ini, bagaimana nasib Olimpiade Tokyo 2020?

Dilansir dari ABC News, Rabu (26/2/2020), anggota senior Komite Olimpiade Internasional (IOC), Dick Pound mengatakan, penyelenggara lebih cenderung membatalkan olimpiade tahun ini daripada menunda atau memindahkannya ke negara lain.

Terdapat peluang Olimpiade Tokyo 2020 akan di batalkan apabila memang virus corona terbukti terlalu berbahaya.

“Saat itu, saya akan bertanya, apakah situasinya terkontrol sehingga kita akan pergi ke Tokyo atau tidak?” kata Dick Pound.

Rencanaya, Olimpiade Tokyo 2020 dijadwalkan akan berlangsung mulai tanggal 24 Juli hingga 9 Agustus 2020. Untuk menggelar acara sebesar itu tentu ada banyak persiapan yang harus dilakukan.

Pound pun mengungkapkan, apabila nanti IOC memutuskan bahwa Olimpiade tidak bisa diselenggarakan di Tokyo, maka besar kemungkinan opsinya selanjutnya adalah melakukan pembatalan.

Olimpiade Tokyo 2020 ditengah Marak Virus Corona? Dibatalkan atau Pindah?
Kemungkinan ditunda dan Batal Terlalu Kecil

Saat ditanya mengenai kemungkinan penundaan, Pound berujar bahwa hal tersebut sulit sekali untuk dilakukan, apalagi menunda event sebesar Olimpiade.

Namun Pemberitaan Asia Nikkei menyebutkan, calon Wali Kota London Shaun Bailey telah menyarankan Ibu Kota Inggris, London, sebagai alternatif jika memang Olimpiade tidak bisa di lakukan di Jepang

Namun, Gubernur Tokyo Yuriko Koike menganggap tawaran itu merupakan upaya menggunakan virus untuk tujuan politik.

Dia juga mengatakan, kemungkinannya kecil untuk memindahkan penyelenggaraan Olimpiade ke negara lain.

“Hanya ada beberapa tempat di dunia ini yang bisa mempersiapkan fasilitas yang ada dalam masa waktu yang begitu pendek,” kata Yuriko.

Ia juga tidak mendukung penyelenggaraan cabang Olimpiade dilaksanakan di berbagai tempat di dunia.

Menurut Yuriko, masa depan Olimpiade Tokyo 2020 sepenuhnya berada di tangan pejabat IOC dan tergantung bagaimana penyebaran virus corona.

Diperkirakan, akan ada 11.000 atlet yang dijadwalkan berpartisipasi di Tokyo dan 4.400 atlet akan bertanding di Paralympics yang akan dimulai pada 25 Agustus 2020.

Post Your Thoughts